Naluri seorang ibu telah lama kurasakan dalam setiap denyutan nadiku, dalam seluruh nafasku saat aku bersama ibuku. Ikatan batin antara seorang anak dan ibu tak pernah bisa terpisahkan. Darah yang sama telah mengalir dalam raga yang berbeda namun rasanya masih tetap sama. Inilah salah satu keajaiban Tuhan bagiku. Sang pencipta telah membuat hubungan batin yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Aku telah membuktikannya berkali-kali.
Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan
Rabu, September 07, 2011
Kamis, Juli 21, 2011
Sekolah..! oh.. Sekolah..!
Di pagi hari yang sejuk nan sunyi namun terdengar syahdu oleh kicauan burung-burung pipit. Suara burung-burung itu merdu sekali menambah keindahan di pagi hari. Ayam-ayam pun tak mahu kalah, ia juga berkokok dengan suara yang melambangkan keperkasaannya. Matahari perlahan mulai terangkat dari bagian bumi yang lain. Cahaya mentari yang telah dinantikan oleh manusia dibumi telah kembali Nampak disingasananya untuk menghangatkan jiwa yang telah mengigil karena dinginnya malam.
Pagi semakin ramai oleh kakak beradik di keluarga itu. Namanya Evi dan Ahmad. Seperti biasa, mereka bangun terlambat, mereka selalu saja kesiangan padahal ibunda telah membangunkan sejak shubuh tadi. Tetapi saat mereka bangun, dunia tersentak. Salah satu di bagian bumi Indonesia menjadi gaduh, hampir tak ada bedanya dengan kegaduhan di gedung DPR oleh demonstrasi mahasiswa. Ahmad bangun dari tidur lelapnya, perlahan kesadarannya mulai kembali. Keseramannya telah pulih, persis seperti harimau yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.
“ Mama…! Mana bukuku ??? ” teriak Ahmad.
“ Apa mama bilang, bukunya disiapkan semalam..!” tak kalah juga suaranya dengan anaknya.
“ Evi..! Kamu yang ambil bukuku” teriak lagi Ahmad kepada kakaknya dengan suara yang lebih kencang. Suara si Ahmad tiba-tiba membuat ayahnya yang masih nyenyak di atas kasur yang tidak empuk-empuk amat itu juga bersuara namun tak jelas-jelas amat.
“ Ahma..d, ini uangmu”
Ahmad yang tadinya takut dimarahi ayahnya tiba-tiba tersenyum sendiri karena ternyata ayahnya hanya akan memberikannya uang.
Pagi semakin ramai oleh kakak beradik di keluarga itu. Namanya Evi dan Ahmad. Seperti biasa, mereka bangun terlambat, mereka selalu saja kesiangan padahal ibunda telah membangunkan sejak shubuh tadi. Tetapi saat mereka bangun, dunia tersentak. Salah satu di bagian bumi Indonesia menjadi gaduh, hampir tak ada bedanya dengan kegaduhan di gedung DPR oleh demonstrasi mahasiswa. Ahmad bangun dari tidur lelapnya, perlahan kesadarannya mulai kembali. Keseramannya telah pulih, persis seperti harimau yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.
“ Mama…! Mana bukuku ??? ” teriak Ahmad.
“ Apa mama bilang, bukunya disiapkan semalam..!” tak kalah juga suaranya dengan anaknya.
“ Evi..! Kamu yang ambil bukuku” teriak lagi Ahmad kepada kakaknya dengan suara yang lebih kencang. Suara si Ahmad tiba-tiba membuat ayahnya yang masih nyenyak di atas kasur yang tidak empuk-empuk amat itu juga bersuara namun tak jelas-jelas amat.
“ Ahma..d, ini uangmu”
Ahmad yang tadinya takut dimarahi ayahnya tiba-tiba tersenyum sendiri karena ternyata ayahnya hanya akan memberikannya uang.
Rabu, Juli 20, 2011
Semangatku
Semangat itu seperti sayap pada kupu-kupu. Tanpa semangat kita tidak akan bisa terbang menjelajahi mimpi, cita dan harapan seindah kepakan sayap kupu-kupu.
Semangat itu seperti taring pada harimau. Tanpa semangat kita takkan sekuat harimau untuk menggapai impian seagresif harimau mencengkram mangsanya.
Semangat itu seperti matahari. Tanpa semangat kita takkan bisa menyinari dan menghangatkan jiwa orang lain seperti matahari menyinari jiwa setiap insane di bumi.
Semangat itu seperti hati. Tanpa hati kita takkan bisa saling mengasihi dan mennyayangi.
Semangat itu invisible hand (tangan tak nampak), semangat sering memberikan kekuatan tanpa memperlihatkan tangannya.
Semangat itu sumber kehidupan. Semangatlah yang membuat kita ada. Semangat orang tua untuk membesarkan kita dengan segenap cinta kasihnya.
Semangat itu cinta. Semangat membesarkan jiwa-jiwa yang sedih dengan kekuatan cinta.
Semangat itu seperti taring pada harimau. Tanpa semangat kita takkan sekuat harimau untuk menggapai impian seagresif harimau mencengkram mangsanya.
Semangat itu seperti matahari. Tanpa semangat kita takkan bisa menyinari dan menghangatkan jiwa orang lain seperti matahari menyinari jiwa setiap insane di bumi.
Semangat itu seperti hati. Tanpa hati kita takkan bisa saling mengasihi dan mennyayangi.
Semangat itu invisible hand (tangan tak nampak), semangat sering memberikan kekuatan tanpa memperlihatkan tangannya.
Semangat itu sumber kehidupan. Semangatlah yang membuat kita ada. Semangat orang tua untuk membesarkan kita dengan segenap cinta kasihnya.
Semangat itu cinta. Semangat membesarkan jiwa-jiwa yang sedih dengan kekuatan cinta.
Senin, Mei 30, 2011
Seberkas Cita di Kampus Tercinta
ilmu itu Rahasia umum yang bisa menjadi sesuatu yang spesial bagi siapapun yang lebih giat dari para pencari ilmu yang lain. Para pencari ilmu adalah orang pilihan.., Mengapa!!? Lihitlah kami para mahasiswa yang berjuang untuk mencari ilmu di tempat kita semua yang tak semua orang bisa meraihnya.
Namun....,
Berbagai kegundahan bisa datang.
Kemalasan kian gencar lahir dan benak orang yang tak bersabar.
Tantangan yang datang bertubi-tubi dianggap sebagai penghalang.
Keluhan menjadi bertumpuk diudara dengan nafas tersengat.
Seharusnya., semua itu bisa membuat kita semakin kuat.
Jika cita-cita dan harapan terpatri di sanubari terdalam.
So.., Sahabatku kembali ingat cita-cita.
Cita-citamu adalah semangatmu.
Namun....,
Berbagai kegundahan bisa datang.
Kemalasan kian gencar lahir dan benak orang yang tak bersabar.
Tantangan yang datang bertubi-tubi dianggap sebagai penghalang.
Keluhan menjadi bertumpuk diudara dengan nafas tersengat.
Seharusnya., semua itu bisa membuat kita semakin kuat.
Jika cita-cita dan harapan terpatri di sanubari terdalam.
So.., Sahabatku kembali ingat cita-cita.
Cita-citamu adalah semangatmu.
Langganan:
Postingan (Atom)